Selasa, 31 Mei 2011

Sepenggal Kisah Lama

Kemarin aku bertemu seseorang yang mirip dengannya di bus menuju kampusku. Pertemuan dengan pria asing itu memaksaku untuk kembali mengingat dia. Ya, dia… seseorang yang pernah menjadi bagian kecil dari masa laluku. Seseorang yang hampir saja terlupakan, dan jauh di sana mungkin dia juga sudah melupakanku. Sebut saja namanya Kak B.
Aku bertemu dengannya di hari pertama Ospek SMP. Hari itu diadakan upacara penerimaan siswa baru. Dan dia, yang sudah duduk di tingkat tiga, menjadi pemimpin upacaranya. Aku masih ingat betul seragam yang dipakainya saat itu. Setelan putih-putih dengan sarung tangan hitam. Dia terlihat begitu tampan. Singkat cerita, aku jatuh hati padanya.
Aku lupa bagaimana ceritanya, tapi hari itu teman perempuanku memberitahu bahwa Kak B ingin menemuiku di lapangan sepulang sekolah. Bisa terbayangkan seperti apa perasaanku saat itu. Aku ingin mati saking bahagianya… Dan, di tengah lapangan upacara yang luar biasa terik, aku masih ingat itu, aku pun menemuinya. Kusadari banyak pasang mata yang berusaha mencuri pandang ke arah kami berdua. Bangga…tapi, aku luar biasa gugup. Dia tersenyum padaku. Aku berusaha mengalihkan rasa gugupku dengan berpura-pura membenarkan jepit rambut yang kupakai, yang sialnya jepit-jepit itu malah berjatuhan, dan membuatku terlihat semakin konyol. Tahukah apa tujuannya menemuiku hari itu? Dia meminta nomor telepon rumahku! Ya, maklum… dulu belum ada anak sekolah yang memakai handphone. Setelah dia selesai mencatat nomorku di selembar kertas (again, cara primitif sebelum hp banyak dipakai), dia berbisik padaku, “Nanti malam aku telepon ya..” Dan aku hampir pingsan mendengarnya.
Dia menelepon saat di rumahku sedang hujan deras. Kami mengobrol ini-itu, sebelum akhirnya dia mengajakku pergi ke gereja bersama. Aku mengiyakan. Dan hari Minggu itu, kami pun beribadah bersama.
“Kak B, kalau udah besar…Kak B mau jadi apa?” tanyaku, khas anak kecil. Saat itu kami dalam perjalanan pulang.
“Jadi pastor.” jawabnya singkat.
“Hah?” aku melongo, yang kemudian dilanjutkan dengan tawa. “Ha…ha..ha…bercandaa..”
“Haha…” Dia ikut tertawa.
            Hubungan kami pun semakin akrab. Dia rutin meneleponku, dan kami semakin sering bersama. Entah itu ketika dia membantuku mengerjakan PR, atau ketika aku menemaninya latihan di studio band. Semua itu terjadi kurang lebih selama 5 bulan. Dan selama itu pula, aku semakin banyak mengenal dia dan keluarganya. Kusadari, Kak B sedikit banyak telah mengubah cara pikirku dari seorang anak kecil manja menjadi seseorang yang lebih dewasa. Sampai akhirnya muncul satu masalah. Tiba-tiba saja kusadari bahwa aku dan dia menjadi sangat renggang. Untuk sekian lama kami seperti dua orang yang tidak pernah saling kenal. Kudengar dia kembali pada mantan pacarnya, dan aku sendiri pacaran dengan teman seangkatanku.
            Sampai hari itu. Hari wisuda murid-murid tingkat tiga. Aku menjadi salah satu murid tingkat satu yang ditugasi mengisi acara tersebut. Tugasku adalah membawa ijazah dalam arak-arakan. Acara pun dimulai. Arak-arakan memasuki gedung aula. Aku berjalan dengan membawa setumpuk kertas ijazah, diapit oleh empat orang penari yang menaburkan bunga di sepanjang jalan. Dan aku melihat dia, di antara sekian ratus orang yang duduk dalam aula tersebut. Sepersekian detik pandangan kami bertemu.
Hari itu baru kuketahui bahwa dia akan pindah ke suatu daerah di Jawa, kalau tidak salah Magelang, untuk mempersiapkan diri menjadi seorang frater. Frater adalah tahap sebelum seseorang menjadi pastor. Terkejut? Ya, sangat. Aku tidak menyangka dia akan memilih jalan itu sebagai masa depannya. Dia, Kak B, memutuskan untuk hidup selibat, melayani Tuhan dengan tidak menikah. Aku jadi teringat kata-katanya ketika kami pulang dari gereja dulu.
            “Kak B…” panggilku ketika kulihat dia sedang sendirian di depan pintu aula. Acara sudah lama selesai. Itulah kali pertama aku berbicara dengannya lagi setelah sekian lama kami tidak berkomunikasi. Dia menoleh, dan tersenyum. Kak B masih terlihat sangat menawan seperti ketika aku bertemu dengannya pertama kali. Aku mendekatinya. Begitu banyak hal yang ingin kukatakan. Begitu banyak yang ingin kutanyakan. Apa kabarnya, bagaimana keadaan Mamanya, bagaimana pelayanannya di gereja sekarang ini…dan betapa inginnya aku mengucapkan terima kasih dan maaf, atas semua yang terjadi selama ini. Begitu banyak…tapi semua seakan tersangkut entah di mana.
“Kak B…semoga sukses, ya.” akhirnya hanya itu yang mampu kuucapkan.
“Terimakasih..” Kami berjabat tangan. Aku tahu itulah hari terakhir kami bertemu. Aku tahu aku tidak akan pernah melihatnya lagi.
            Kak B adalah sepenggal kisah lama yang pernah mengisi hari-hariku. Walau kehadirannya begitu singkat, tapi dia telah memberi banyak arti dalam hidupku. Terimakasih banyak, Kak B…

2 komentar:

  1. pindahan dari tumblr nih, ntan? hehehhe... pernah baca soalnya :D

    BalasHapus
  2. iya nih jen..masih evakuasi dr tumblr. nantikan kisah2 teranyar di blog ini ya.nyahahaha...

    BalasHapus